CHANDRA ASRI BUKUKAN PENDAPATAN BERSIH SEBESAR US$1,94 MILIAR HINGGA SEPTEMBER 2022

CHANDRA ASRI BUKUKAN PENDAPATAN BERSIH SEBESAR US$1,94 MILIAR HINGGA SEPTEMBER 2022

CHANDRA ASRI BUKUKAN PENDAPATAN BERSIH SEBESAR US$1,94 MILIAR HINGGA SEPTEMBER 2022

CHANDRA ASRI BUKUKAN PENDAPATAN BERSIH SEBESAR US$1,94 MILIAR HINGGA SEPTEMBER 2022

CHANDRA ASRI BUKUKAN PENDAPATAN BERSIH SEBESAR US$1,94 MILIAR HINGGA SEPTEMBER 2022
CHANDRA ASRI BUKUKAN PENDAPATAN BERSIH SEBESAR US$1,94 MILIAR HINGGA SEPTEMBER 2022
CHANDRA ASRI BUKUKAN PENDAPATAN BERSIH SEBESAR US$1,94 MILIAR HINGGA SEPTEMBER 2022
You are using an outdated browser. For a faster, safer browsing experience, upgrade for free today.

CHANDRA ASRI BUKUKAN PENDAPATAN BERSIH SEBESAR US$1,94 MILIAR HINGGA SEPTEMBER 2022

IQPlus, (1/11) - Pada 31 Oktober 2022, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (IDX: TPIA) merilis laporan keuangan konsolidasi tidak diaudit untuk periode sembilan bulan tahun 2022.

Direktur Perseroan, Suryandi dalam siaran pers (31/10) menyampaikan "Dalam 9 bulan 2022, Chandra Asri mencatatkan Pendapatan Bersih sebesar US$1,947.8 juta, naik 3.5% dari periode yang sama tahun lalu. EBITDA tercatat sebesar US$11.1 juta.

Perseroan menghadapi tantangan eksternal selama 9 bulan tahun 2022 dari harga minyak mentah yang tetap tinggi rata-rata di atas US$100 per barel (sekitar 51% lebih tinggi dari 9 bulan tahun 2021) sebagai akibat dari ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina yang sedang berlangsung.

Selain itu, terdapat permintaan yang rendah dari China karena lockdown COVID-19, dan efek musiman Lebaran. Sementara itu, spread produk tetap rendah dan pada akhirnya menghasilkan keuntungan dan margin yang terkompresi. Dalam masa yang tidak pasti ini, Perseroan terus mempertahankan kebijakan keuangan yang hati-hati untuk mengatasi volatilitas sambil mempertahankan neraca yang kuat, dengan liquidity pool sebesar US$2,285.9 juta yang terdiri dari US$1,144.4 juta kas dan setara kas, US$798.8 juta surat berharga, dan US$342.7 juta fasilitas committed revolving credit yang tersedia.

Selama kuartal ketiga, Perseroan telah melunasi seluruh sisa Pinjaman JBIC untuk merampingkan komitmen keuangan dan menyelaraskan persyaratan fasilitas pembiayaan yang ada. Perseroan juga terus mendapat dukungan kuat dari pasar modal dengan kelebihan pemesanan (oversubscription) atas penerbitan obligasi senilai Rp2 triliun dan kesuksesan pelaksanaan pemecahan saham dengan rasio 1:4 untuk meningkatkan likuiditas saham kami.

Bank mitra utama kami juga terus menunjukkan kepercayaan terhadap fundamental bisnis kami, dengan kemitraan fasilitas pinjaman berjangka senilai US$100 juta dari Bank OCBC NISP dan penandatanganan fasilitas pembiayaan Sustainability-Linked Trade pertama UOB di Indonesia..

Pendapatan Bersih meningkat 3.5% YoY menjadi US$1,947.8 juta dari US$1,881.2 juta pada 9M 2021 sebagai akibat dari harga jual rata-rata yang lebih tinggi di semua produk.

Beban Pokok Pendapatan meningkat 24.3% YoY menjadi US$1,956.5 juta dari US$1,574.4 juta pada 9M 2021 sebagian besar disebabkan oleh harga bahan baku rata-rata yang lebih tinggi dengan Naphtha pada US$851/T dibandingkan dengan rata-rata US$619/T pada 9M 2021 didukung oleh kenaikan 51% harga minyak mentah Brent selama 9M 2022 menjadi rata-rata US$102/bbl dibandingkan dengan ratarata US$68/bbl pada 9M 2021.

Sebagai hasilnya, Perseroan mencatat Rugi Bersih setelah Pajak 9M 2022 sebesar US$111.1 juta sedangkan EBITDA tercatat sebesar US$11.1 juta

Pendapatan Bersih meningkat sebesar US$66.6 juta menjadi US$1,947.8 juta dari US$1,881.2 juta pada 9M 2021 terutama karena harga penjualan rata-rata yang lebih tinggi sebesar US$1,292/T selama periode tersebut dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu US$1,145/T (dengan volume penjualan yang lebih rendah sebesar 1,568 KT vs. 1,651 KT pada 9M 2021).

Beban Pokok Pendapatan meningkat menjadi US$1,956.5 juta dari US$1,574.4 juta pada 9M 2021 sebagian besar disebabkan oleh harga bahan baku rata-rata yang lebih tinggi dengan rata-rata Naphtha pada US$851/T pada 9M 2022 dibandingkan dengan rata-rata US$619/T pada 9M 2021. Biaya bahan baku yang lebih tinggi mencerminkan kenaikan 51% harga minyak mentah Brent selama 9M 2022 menjadi rata-rata US$102/bbl vs rata-rata US$68/bbl pada 9M 2021.

Meskipun kinerja topline meningkat, beban pokok pendapatan yang lebih tinggi dikombinasikan dengan margin petrokimia yang lebih ketat, didorong oleh hambatan makro karena situasi Rusia-Ukraina dan lockdown COVID di Cina, telah mengakibatkan EBITDA Perseroan turun menjadi US$11.1 juta selama 9M 2022 vs US$313.7 juta pada 9M 2021.

Perseroan mencatat Rugi Bersih setelah Pajak sebesar US$111.1 juta pada 9M2022 dibandingkan dengan US$166.7 juta Laba Bersih Setelah Pajak pada 9M 2021.

Total Aset Perseroan mencatatkan Total Aset sebesar US$4,815.3 juta per 30 September 2022, turun 3.6% dari US$4,993.1 juta per 31 Desember 2021. Perseroan mencatatkan Total Liabilitas yang lebih rendah sebesar US$1,971.7 juta selama sembilan bulan dari US$2,060.6 juta pada 31 Desember 2021. (end)