PENDAPATAN INDOSAT NAIK 50,3% DI SEMESTER I 2022

PENDAPATAN INDOSAT NAIK 50,3% DI SEMESTER I 2022

PENDAPATAN INDOSAT NAIK 50,3% DI SEMESTER I 2022

PENDAPATAN INDOSAT NAIK 50,3% DI SEMESTER I 2022

PENDAPATAN INDOSAT NAIK 50,3% DI SEMESTER I 2022
PENDAPATAN INDOSAT NAIK 50,3% DI SEMESTER I 2022
PENDAPATAN INDOSAT NAIK 50,3% DI SEMESTER I 2022
You are using an outdated browser. For a faster, safer browsing experience, upgrade for free today.

PENDAPATAN INDOSAT NAIK 50,3% DI SEMESTER I 2022

IQPlus, (29/7) - PT Indosat Tbk (ISAT) melanjutkan perjalanan baru pasca penggabungan usaha di tahun 2022 dengan kinerja yang gemilang di semester pertama 2022, kinerja tercatat yang sangat baik dengan total pendapatan naik sebesar 50,3% YoY menjadi sebesar Rp22.526,6 miliar.

EBITDA tercatat sebesar Rp9.177,9 miliar atau naik sebesar 35,4%, imbas dari penggabungan usaha. EBITDA margin tercatat sebesar 40,7% pada SMT1 2022. Laba Periode Berjalan Yang Dapat Diatribusikan Kepada Pemilik Entitas Induk sebesar Rp3.260,3 miliar berdasarkan siaran pers Jumat (29/7).

Setelah penggabungan usaha, pelanggan Perusahaan meningkat sebesar 59,7% menjadi 96,2 juta pelanggan pada SMT1 2022. Peningkatan pelanggan ini sedikit berimbas pada penurunan Average Revenue per User (ARPU) menjadi Rp33,5 ribu di SMT1 2022, dari sebelumnya sebesar Rp34,0 ribu pada SMT 2021.

Perluasan basis pelanggan menghasilkan pertumbuhan trafik data yang kuat sebesar 98,2% YoY pada SMT1 2022. Selain itu, cakupan jaringan Perusahaan juga meningkat seiring peningkatan jumlah BTS 4G yang mencapai 55 ribu, sehingga mampu menangani peningkatan trafik yang tinggi.

Fokus Perusahaan pada semester pertama tahun 2022 adalah integrasi paska merger demi memaksimalkan sinergi dalam hal biaya dan capex, beriringan dengan mendapatkan berbagai peluang dalam pendapatan.

Perkembangan integrasi Perusahaan sejauh ini telah sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan dengan pencapaian dan hasil sinergi yang melebihi target.

Kedua merk Perusahaan, IM3 dan Tri, menunjukkan performa yang sangat baik sesuai target masing-masing segmen. Pada triwulan kedua ini pertumbuhan jumlah pelanggan dan ARPU terus meningkat, menunjukkan kekuatan kedua merk ini di tengah pasar. Hal ini juga terbukti melalui peningkatan Net Promoter Score (NPS) yang menunjukkan pertumbuhan kepercayaan pelanggan pada kedua merk ini.

Pada tanggal 2 Juni 2022, BDx Indonesia, yaitu sebuah perusahaan joint venture antara Perusahaan, Lintasarta dan BDx, diluncurkan. Kerjasama ini bertujuan untuk mempercepat Transformasi Digital Indonesia melalui sebuah Perusahaan baru berskala besar yang berfokus pada data center.

Pendapatan tercatat sebesar Rp22.526,6 miliar pada tahun 2022, meningkat sebesar Rp7.543,1 miliar atau naik sebesar 50,3% dibandingkan SMT1 2021. Layanan Selular, MIDI, dan Telekomunikasi Tetap milik Perusahaan masing-masing memberikan kontribusi sebesar 86,7%, 11,6%, dan 1,7% terhadap pendapatan usaha konsolidasian untuk periode yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2022.

. Pendapatan Selular meningkat sebesar 57,5% dibandingkan SMT1 2021, terutama disebabkan oleh peningkatan pendapatan Data, Interkoneksi dan Jasa Nilai Tambah yang mengimbangi penurunan pendapatan Telepon, SMS dan Sewa Menara.

. Pendapatan MIDI meningkat sebesar 14,0% dibandingkan SMT1 2021, disebabkan oleh peningkatan pendapatan dari semua layanan.

. Pendapatan Telekomunikasi Tetap meningkat sebesar 31,0% dibandingkan SMT1 2021 akibat kenaikan pendapatan Telepon Internasional dan pendapatan Jaringan tetap.

Beban - beban sebesar Rp16.429,4 miliar pada SMT1 2022, naik sebesar Rp8.519,3 miliar atau 107,7% lebih tinggi dibandingkan SMT1 2021.

Laba Periode Berjalan Yang Dapat Diatribusikan Kepada Pemilik Entitas Induk: Perusahaan membukukan laba bersih sebesar Rp3.260,3 miliar atau turun sebesar Rp2.337,7 miliar, yang utamanya disebabkan oleh peningkatan beban operasional, peningkatan beban depresiasi dan amortisasi, serta peningkatan biaya finansial, sebagai dampak dari penggabungan dua perusahaan, yang diimbangi oleh peningkatan pendapatan.

Aset lancar meningkat sebesar 44,3% menjadi Rp16.594,3 miliar, terutama karena peningkatan kas dan setara kas, beban dibayar dimuka dan piutang.

. Aset tidak lancar meningkat sebesar 69,3% menjadi Rp87.838,6 miliar terutama diakibatkan karena peningkatan aset tetap dan aset tidak berwujud sebagai dampak dari penggabungan usaha.

. Liabilitas jangka pendek meningkat sebesar 24,1% menjadi Rp35.565,3 miliar yang utamanya akibat peningkatan liabilitas sewa akibat reklasifikasi dari utang porsi jangka panjang ke utang jatuh tempo dikurangi pembayaran selama periode ini serta peningkatan pendapatan diterima dimuka.

. Liabilitas jangka panjang meningkat sebesar 57,9% menjadi Rp38.591,0 miliar diakibatkan kenaikan dalam liabilitas sewa sebagai dampak dari penambahan jumlah menara yang disewa, peningkatan utang obligasi dan pinjaman, sebagai dampak penggabungan dua perusahaan. (end)